Hari Yang Gelap
Saya ingin memberi judul apa tulisan ini dengan judul " Hari yang gelap" tanggal 9 april 2017 menjadi hari yang tak mungkin dapat ku lupakan karena seorang yang bernama " Ahok Basuki Tjahaya Purnama" semua harapan positif saya pada integritas penegak hukum di pengadilan sirna, dengan pongahnya hakim-hakim membacakan putusan, kalimat demi kalimat seperti air bah yang meluluhlantakkan rasa optimis yang tadinya masih ada di dalam hati untuk tegaknya objektifitas hukum yang fair dan berlandaskan profesionalitas seorang hakim yang bebas intervensi.
Indonesia seperti apa kelak, ketika sudah di putuskan di sidang yang harusnya bermartabat bahwa isu SARA boleh di gunakan didalam pemilihan kepala daerah, tuan hakim yang terhormat mungkin kurang menyimak betapa brutalnya isu etnis dan agama digunakan untuk menyerang kandidat tertentu. Tuan Hakim yang seharusnya mulia dalam tindakan dan keputusan karena anda di gaji menggunakan uang rakyat, di mata saya kurang objektif dan independen dalam memutuskan, karena membiarkan kami para minoritas ini sebagai sasaran yang lebih rentan di dalam proses politik berikutnya. Dan yang lebih menyedihkan bagaimana logika para hakim terhormat membebankan semua kegaduhan dan perpecahan di masyarakat kepada seorang Ahok, saya tidak habis pikir dan hampir tidak percaya ketika hakim membacakan kalimat demi kalimat dalam berkas putusan bernuansakan kesombongan. Lagi-lagi anda menafikkan berbagai fakta yang tersimpan di you tube untuk menilai siapa yang sesungguhnya paling gaduh dan menimbulkan keresahan di masyarakat.
Hati saya hancur membaca beberapa tulisan teman yang kebetulan tidak bisa memilih menjadi bukan orang yang terlahir bermata sipit, berkulit putih dan sialnya beragama kristen, kenapa saya bilang begitu karena toh Harry Tanue cina dan kristen, felix siaw cina dan mualaf tapi mereka di kecualikan didalam isu asing dan aseng. Bagaimana mereka mempertahankan cinta mereka kepada negara yang sering menyangkal dan menolak mereka, saya sering berpikir apa yang mereka rasa saat mendengar, membaca gema-gema kebencian yang terus di suarakan dengan massif di ruang publik dan media.
Ini tentang Indonesia yang kita cintai bersama, rumah bagi semua, kita memiliki kebenaran masing-masing tapi kebenaran pribadi kita tidak boleh kita jadikan alat untuk menindas mereka yang berbeda dengan kita, meskipun saya pribadi setuju tindakan-tindakan benar yang harus dilakukan oleh negara terhadap kelompok-kelompok yang berpotensi menghianati cita-cita perjuangan para pendiri bangsa ini. Sikap yang mendua tidak boleh ada dalam birokrasi maupun lembaga legislatif dan yudikatif, anda harus menjunjung tinggi hukum positif negara ini bagaimanapun sikap pribadi anda dalam menjalani keyakinan, bukankah ini sudah kesepakatan yang tertuang dalam UUD 1945?
Hati nurani saya tidak bisa memilih diam, karena saya mencintai negara ini dan saya mencintai sesama warga negara yang semuanya memiliki hak yang sama di mata hukum. Meskipun hanya lewat tulisan, saya akan melawan sebagai tanggungjawab saya sebagai warga negara ini dan sebagai sesama aparatur yang mestinya harus independen dan objektif dalam keputusan-keputusan yang di ambil. Karena suatu negara hancur bukan karena orang jahat, tapi karena banyak orang-orang baik diam dan tak melakukan apa-apa.
Semoga Tuhan menolong negara ini, menolong kita semua agar tetap waras dalam kegilaan.

Comments
Post a Comment