Bangsa Pancasila Kini
Sebagai orang yang telah melalui beberapa perubahan fundamental dalam dinamika bangsa ini, mulai dari orde baru di bawah kepemimpinan Pak Soeharto sampai presiden terakhir, terus terang ada perasaan kuatir, cemas, dan takut akan masa depan rumah bersama yang kita sebut indonesia ini. Membicarakan terlalu sering di medsos juga tidak nyaman, karena kadang ada saja orang yang sinis dan menganggap berlebihan kecemasan seperti itu, tapi baru-baru ini beredar video viral bai`at sekian ratus mahasiswa unversitas negeri terkenal kepada negara islam, Oh my God..saya merasa tubuh saya jadi dingin, ini adalah generasi penerus bangsa ini dan baru satu kampus. Kemudian membaca surat seorang dosen UGM kepada Pak Jokowi yang mengutarakan kekuatiran beliau akan penyebaran paham radikalisme di sekolah-sekolah, bahkan kampus negeri yang notabene adalah fasilitas pemerintah.
Membaca beberapa tanggapan sinis yang merasa kekuatiran semacam ini terlalu berlebihan membuat saya berpikir, bahwa kadang kita menganggap remeh sebuah gagasan, ide dan semacamnya. Tapi tahukah kau? semua gerakan-gerakan besar termasuk revolusi, kudeta dan apapun itu yang merubah sejarah dunia, semua berasal dari gagasan yang di kembangkan sebagai opini dan disebarkan untuk menarik simpatisan, membesar dan menjadi gerakan.
Semua paham baik, komunis, sosialis, demokratis berasal dari gagasan, ide dan opini yang mempengaruhi banyak orang. Lebih mudah untuk melakukan pencegahan daripada memadamkan api, ini memang topik sensitif, tapi karena saya peduli pada bangsa yang terdiri dari aneka ragam suku, rasa, agama, budaya yang masing-masing memiliki kebenaran sendiri. Apa jadinya bangsa ini, apabila terus di rongrong oleh satu golongan yang ingin mengubah dasar negara ini. Tidakkah kalian tahu? apakah sebagian papua, sebagian kalimantan, sebagian, sulawesi, sebagian sumatera akan mau menerima di atur dengan menggunakan hukum agama tertentu? tidakkah kalian pikir bahwa mereka akan melakukan perlawanan, dan akhirnya rumah yang kita sebut indonesia ini akan rubuh dan tinggal cerita.
Betapa indah negara yang kita tinggali ini dengan segala perbedaan yang ada, saya masih ingat bagaimana masa kecil sampai remaja saya tinggal di daerah dengan penduduk muslim 99%, ketika musim lebaran saya tidak merasa canggung untuk berlebaran dengan teman-teman, semua happy, tidak ada kafir-kafiran, Islam yang membawa berkah dan harapan untuk bangsa indonesia yang lebih baik, karena pada masa itu memang tidak ada ruang untuk pemikiran radikal, belum ada medsos atau internet untuk orang belajar suatu paham dengan instan dan orang tidak bebas mengutarakan pendapat apalagi bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45.
Tapi setelah reformasi dan kebebasan berbicara, berpendapat dan berorganisasi, terjadi perubahan yang sangat cepat, ormas bermunculan bagai jamur, partai politik semakin banyak, seiring makin besar risiko yang di hadapi oleh negara, setiap tindakan apapun yang bersifat refresif akan berhadapan dengan HAM.
Saya tidak tahu dengan anda yang merasa sinis dengan kami yang mencemaskan negara ini, apakah anda memiliki loyalitas kepada bangsa ini, atau demi apa yang anda yakini sebagai akidah anda membiarkan bangsa besar ini hancur dan menihilkan kembali hasil perjuangan para pahlawan bangsa yang telah menyatukan kita dari sabang sampai marauke menjadi NKRI yang maksudnya akan kita wariskan kepada para generasi berikutnya. Ketika anda sinis dan abai terhadap fakta yang terjadi selama ini, kami tidak ingin abai karena ini rumah kami, minimal kami bersuara untuk membela bangsa pancasila ini, siapapun yang ingin menggerogoti bangsa dari dalam tak perduli dari golongan dan agama serta kepentingan apa, sudah seharusnya kita bersuara untuk memberikan dukungan kepada aparat kita melakukan tindakan preventif maupun represif sesuai hukum yang berlaku.
Saya berdoa untuk bangsa ini, agar tetap menjadi rumah yang nyaman bagi semua, masa kini dan masa depan, Tuhan ...tolonglah kami, amin.

Comments
Post a Comment